Jamur berukuran besar memiliki beragam metabolit bioaktif yang kaya dan dianggap sebagai sumber daya hayati yang berharga. Phellinus igniarius adalah jamur berukuran besar yang secara tradisional digunakan untuk tujuan pengobatan dan makanan, tetapi klasifikasi dan nama Latinnya masih kontroversial. Dengan menggunakan analisis penyelarasan segmen multigen, para peneliti mengkonfirmasi bahwa Phellinus igniarius dan spesies serupa termasuk dalam genus baru dan menetapkan genus Sanghuangporus. Jamur honeysuckle Sanghuangporus lonicericola adalah salah satu spesies Sanghuangporus yang diidentifikasi di seluruh dunia. Phellinus igniarius telah menarik perhatian yang cukup besar karena beragam khasiat obatnya, termasuk polisakarida, polifenol, terpen, dan flavonoid. Triterpen adalah senyawa aktif farmakologis utama dari genus ini, yang menunjukkan aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antitumor.
Triterpenoid memiliki potensi besar untuk aplikasi komersial. Karena kelangkaan sumber daya Sanghuangporus liar di alam, peningkatan efisiensi biosintesis dan hasil panennya secara efektif sangat penting. Saat ini, kemajuan telah dicapai dalam meningkatkan produksi berbagai metabolit sekunder Sanghuangporus dengan menggunakan penginduksi kimia untuk mengendalikan strategi fermentasi terendam. Misalnya, asam lemak tak jenuh ganda, elisitor jamur11 dan fitohormon (termasuk metil jasmonat dan asam salisilat14) telah terbukti meningkatkan produksi triterpenoid pada Sanghuangporus. Pengatur pertumbuhan tanaman(PGR)Gibberellin dapat mengatur biosintesis metabolit sekunder pada tanaman. Dalam penelitian ini, PBZ, regulator pertumbuhan tanaman yang banyak digunakan untuk mengatur pertumbuhan, hasil panen, kualitas, dan sifat fisiologis tanaman, diteliti. Secara khusus, penggunaan PBZ dapat memengaruhi jalur biosintesis terpenoid pada tanaman. Kombinasi gibberellin dengan PBZ meningkatkan kandungan triterpen kuinon metida (QT) pada Montevidia floribunda. Komposisi jalur terpenoid minyak lavender berubah setelah perlakuan dengan 400 ppm PBZ. Namun, belum ada laporan tentang penerapan PBZ pada jamur.
Selain studi yang berfokus pada peningkatan produksi triterpen, beberapa studi juga telah menjelaskan mekanisme pengaturan biosintesis triterpen pada Moriformis di bawah pengaruh penginduksi kimia. Saat ini, studi berfokus pada perubahan tingkat ekspresi gen struktural yang terkait dengan biosintesis triterpen dalam jalur MVA, yang menyebabkan peningkatan produksi terpenoid.12,14 Namun, jalur yang mendasari gen struktural yang diketahui ini, terutama faktor transkripsi yang mengatur ekspresinya, masih belum jelas dalam mekanisme pengaturan biosintesis triterpen pada Moriformis.
Dalam penelitian ini, efek berbagai konsentrasi zat pengatur pertumbuhan tanaman (PGR) terhadap produksi triterpen dan pertumbuhan miselium selama fermentasi terendam honeysuckle (S. lonicericola) diselidiki. Selanjutnya, metabolomik dan transkriptomik digunakan untuk menganalisis komposisi triterpen dan pola ekspresi gen yang terlibat dalam biosintesis triterpen selama perlakuan PBZ. Data sekuensing RNA dan bioinformatika lebih lanjut mengidentifikasi faktor transkripsi target MYB (SlMYB). Selain itu, mutan dihasilkan untuk mengkonfirmasi efek pengaturan gen SlMYB pada biosintesis triterpen dan mengidentifikasi gen target potensial. Uji pergeseran mobilitas elektroforesis (EMSA) digunakan untuk mengkonfirmasi interaksi protein SlMYB dengan promotor gen target SlMYB. Singkatnya, tujuan penelitian ini adalah untuk menstimulasi biosintesis triterpen menggunakan PBZ dan mengidentifikasi faktor transkripsi MYB (SlMYB) yang secara langsung mengatur gen biosintesis triterpen termasuk MVD, IDI, dan FDPS pada S. lonicericola sebagai respons terhadap induksi PBZ.
Induksi IAA dan PBZ secara signifikan meningkatkan produksi triterpenoid pada honeysuckle, tetapi efek induksi PBZ lebih menonjol. Oleh karena itu, PBZ ditemukan sebagai penginduksi terbaik pada konsentrasi tambahan 100 mg/L, yang perlu diteliti lebih lanjut.
Waktu posting: 19 Agustus 2025



